Digital Nomad : Tren Baru di Indonesia

Apa itu Digital Nomad?

Digital Nomad, ya mungkin beberapa dari kita belum mengetahui apa yang dimaksud dengan Digital Nomad, ya kan? Digital Nomad merupakan sekumpulan orang-orang yang bekerja pada sektor digital, biasanya mereka merupakan (namun tidak terbatas) pada pemilik startup, pekerja startup, software engineer, maupun content writer, UI/UX Designer, graphic designer yang bekerja secara full-time namun tidak memiliki lokasi yang tetap. Memang kantor mereka memiliki HQ (kantor pusat), namun perusahaan mereka memperbolehkan pekerjanya bekerja dari seluruh penjuru dunia.

Di Indonesia sendiri, saya pribadi baru “ngeh” adanya Digital Nomad ini pada sekitar 2017. Pada waktu itu, saya mengikuti sebuah seminar Digital Marketing, bernama DMSS (Digital Marketing Skill Share) yang diadakan di Trans Resort Bali. Lah, alih-alih yang ikut orang Indonesia, malah saya menjumpai mayoritas peserta adalah ekspatriat, ada yang terbang jauh-jauh dari negara mereka, dan ada sebagian pula yang memang tinggal di Bali sebagai pekerja digital. Wow, baru tahu saya.

Cari saya, kan kebanyakan bule kan?

Kenapa Digital Nomad?

JELAS karena BIAYA HIDUP bro sis. Sebagai perbandingan, waktu saya jadi mahasiswa dan tinggal di kota Stuttgart, Jerman pada tahun 2013 saya kira-kira membutuhkan 500 – 600 EUR untuk hidup layak di kota tersebut. Layak, artinya tidak bergelimang kemewahan dan bisa makan diluar seenak jidat setiap hari ya. Bandingkan dengan digital nomad yang berasal dari Eropa, yang tentu pendapatannya ribuan euro, dan tinggal di Bali. Jelas menang banyak, bisa hidup sangat sangat layak tinggal di villa sekitar Canggu, makan diluar, dan pastinya sekalian berlibur. Tentunya kalau mereka tinggal dalam jangka waktu yang panjang, memang diharuskan untuk melakukan kewajiban yang berlaku di Republik Indonesia, contohnya seperti membayar pajak dan lainnya.

Selain itu, digital nomad menawarkan fleksibilitas karena fleksibelnya lokasi kerja, tentu didukung dengan jam kerja yang fleksibel. Tidak mungkin jam kerja juga mengikuti jam kerja yang berlaku di negara asal. Alamat begadang melulu nanti para digital nomad ini ya kan? Selain itu mereka juga dapat bekerja dari mana saja, baik dari villa, co-working space yang tersebar, juga tidak sedikit dari mereka yang bekerja dari pinggir pantai menikmati indahnya pasir putih dan sunset.

Dojo Bali Co-working. Selangkah dari Pantai lho.

Potensi Digital Nomad di Indonesia

Semenjak wabah COVID-19 muncul di Indonesia sejak Maret 2020, banyak kantor-kantor “terpaksa” melakukan perubahan radikal dengan memperbolehkan pekerjanya bekerja dari rumah, alias Working From Home (WFH). Kesempatan WFH ini memang bagi sebagian orang memberikan kenyamanan karena tidak perlu menghadapi macetnya kota di pagi hari, dan juga adanya waktu tambahan untuk kumpul bersama keluarga maupun orang terkasih.

Selain itu, tidak dipungkiri bahwa kedatangan wisatawan mancanegara pun mengalami penurunan yang sangat tajam. Alhasil, lokasi pariwisata seperti Bali pun mengandalkan kunjungan wisatawan lokal, namun hal ini pun juga tidak membawa kontribusi yang berarti. Belakangan ini saya lihat muncul pula pekerja remote yang memiliki kantor di Jakarta, namun mereka bekerja di Bali, dengan alasan suasana yang lebih nyaman, tenang dan bebas dari hiruk pikuk kota.

Tantangan remote working di Bali menurut saya memang menghadapi godaan untuk jalan-jalan dan menikmati Pulau Bali (hehe) tapi kembali lagi kepada pekerja tersebut. Sekarang dengan mudah kita dapat mengatur level produktifitas kita melalui tools yang bermanfaat seperti Trello, JIRA, maupun Slack untuk berkomunikasi antar rekan kerja.

Mengapa Bali?

Bali merupakan salah satu destinasi remote working bagi pekerja dari Jakarta karena akses yang mudah (melalui udara, jalan darat) dan juga sudah memiliki fasilitas yang mumpuni, khususnya Internet. Sebagian besar wilayah Pulau Bali sudah tercakup jaringan seluler 4G dan juga jaringan Internet kabel fiber optik. Selain itu jarak dan perbedaan waktu yang tidak terpaut jauh dengan Jakarta.

Selain itu, karena Bali sangat terdampak akibat pandemi COVID-19, mengenai urusan tempat tinggal pun bukan menjadi masalah besar. Banyak villa, maupun kos eksekutif menawarkan harga yang bersahabat bagi remote workers. Selain itu untuk urusan makanan pun relatif lebih murah dan cukup beragam bila dibandingkan Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Transportasi? Pun cukup mudah, bisa menyewa motor secara bulanan maupun menggunakan ride-hailing seperti GO-JEK dan Grab untuk berkendara ke tempat lain.

Sisi lainnya yang tak dipungkiri adalah Pulau Bali memang tempat untuk berlibur. Setelah penat bekerja dari Senin hingga Jumat, akhir pekan waktunya untuk jalan-jalan ke tempat wisata yang ada, seperti pantai, danau ataupun beach club yang kini tak begitu ramai semenjak pandemi COVID-19. Rasanya nyaman bukan, setiap weekend dapat keliling beach club yang ada di Bali? 🙂

Finns Beach Club Bali – foto milik Finns Beach Club

Tentunya, sebagai digital nomad / remote worker kita pun diwajibkan untuk selalu menjaga protokol kesehatan untuk menanggulangi penyebaran penyakit COVID-19. Jangan sampai adanya influx pekerja remote ke daerah ini malah menjadikan kluster penyebaran COVID-19 yang baru.

Perusahaan vs Remote Working?

Tentunya hal ini merupakan tren baru dan menimbulkan pro dan kontra bagi manajemen perusahaan. Tidak semua perusahaan memiliki infrastruktur yang mumpuni bagi karyawannya melakukan WFH. Bahkan WFH dalam kota pun masih terkendala untuk urusan Internet yang tak lancar bila melakukan zoom / hangout meeting. Nah apakah perusahaan memiliki kontrol akan hasil produktifitas karyawannya apabila karyawannya bekerja dari tempat yang cukup jauh dari lokasi kantor, seperti Bali?

Kembali lagi ke perusahaan masing-masing apakah sudah siap dan mau untuk melakukan perubahan yang radikal dalam cara kerja? apakah sanggup para direksi dan manajer untuk melakukan koordinasi ke seluruh jajaran tim yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini? apakah SDM yang ada sudah sanggup dan bertanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dan melakukan monitoring performa kerjanya?

Hemat saya, remote working ini memberikan manfaat yang cukup besar bagi para pekerja karena dapat menghemat waktu transportasi dan memiliki fleksibilitas dalam menjalankan tugasnya. Begitu pun juga dengan perusahaan dapat mengurangi beban sewa kantor atau malah beralih ke Virtual Office?, beban biaya transportasi dan tunjangannya bila ada.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *